Zahra Lari Cerita Kesetaraan Hijab di Seluncur Indah
Olahraga

Zahra Lari, Cerita Kesetaraan Hijab di Seluncur Indah

Zahra Lari, Cerita Kesetaraan Hijab di Seluncur Indah

Zahra Lari, Cerita Kesetaraan Hijab di Seluncur Indah,- Zahra Lari tidak pernah berpikir untuk jadi atlet figure skating atau seluncur indah sampai akhirnya menonton Ice Princess di usia 12. Ia pun berjuang sampai akhirnya hijab mendapat perlakuan sama di arena seluncur indah.

Kehadiran Zahra Lari di dunia seluncur indah seperti sebuah ironi. Dengan seluncur indah adalah olahraga yang dilakukan di atas es, Zahra yang berasal dari Uni Emirat Arab yang gersang dan tandus tentu butuh jalan panjang untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Zahra Lari tidak menjalani waktu yang normal dalam mewujudkan mimpi sebagai atlet seluncur indah. Bila rata-rata atlet seluncur indah harus memulai latihan di usia 3-4 tahun, Zahra baru berminat untuk menekuni olahraga ini di usia 12.

Namun ketimpangan itu bisa ditutupi dengan sangat baik oleh Zahra. Zahra seolah sudah dilahirkan dengan anugerah bakat besar sebagai atlet seluncur indah.

Dikutip dari Emirates Woman, salah satu contoh kehebatan Zahra adalah penguasaan teknik triple jump. Normalnya, teknik tersebut baru bisa dikuasai dalam waktu 10 tahun, namun Zahra sudah bisa melakukannya dalam tiga tahun.

Setelah serius menekuni dunia seluncur indah, Zahra Lari justru dihadapkan pada jalan yang lebih terjal. Dibandingkan kesulitan mencari tempat latihan, tantangan terbesar Zahra saat tampil di kompetisi internasional adalah ‘wajah berbeda’ yang ia tampilkan.

Zahra Lari atlet seluncur indah pertama yang menggunakan hijab. (Andrea Solero / AFP)

Zahra mengenakan pakaian tertutup, termasuk juga menggunakan hijab. Hal itu kontras dengan pakaian yang sering dikenakan oleh atlet seluncur indah lain.

Karena itu ketika berlaga di European Cup 2012 di Canazei, Italia, Zahra mendapatkan pengurangan nilai karena kostum yang dikenakan. Padahal pengurangan nilai biasanya dilakukan oleh juri ketika rok yang dikenakan terlalu pendek atau aksesoris yang digunakan jatuh.

Juri mengatakan pengurangan poin tersebut karena faktor keamanan dan Zahra tak puas dengan jawaban tersebut. Ia pun mengajukan banding ke International Skating Union (ISU)

“Seluncur indah tentu semuanya tentang politik. Namun ketika saya menjelaskan bahwa kostum ini tidak membuat saya tergelincir, mereka mengganti peraturan. Kini, tidak bakal ada atlet berhijab yang dikenakan hukuman,” tutur Zahra dikutip dari FT.

Zahra menganggap keputusan juri untuk pengurangan nilai tersebut bukan sebagai sebuah hal yang harus dikutuk. Ia justru memilih memanfaatkan momentum itu untuk membuka mata dan cara pandang baru dunia seluncur indah terhadap atlet-atlet berhijab.

“Meski saya tak melihat alasan jelas di balik pelanggaran itu, saya tidak lantas ingin langsung menilai mereka. Saya tahu mereka belum pernah melihat seseorang yang tertutup [saat bertanding].”

“Mereka melihat dari segi kesehatan dan keselamatan, namun kemudian saya bisa membuktikan bahwa bentuk pakaian ini tidak akan jatuh dan jadi kendala,” ujar Zahra.

Zahra berharap semua perempuan muslim mendapat kesempatan sama di arena olahraga tanpa terkendala peraturan.

“Semua orang sama, kami sejajar dan seharusnya dinilai berdasarkan bakat kami, tidak berdasarkan asal kami dan pakaian kami.”

Zahra mengakui bahwa kehadirannya sebagai atlet seluncur indah tidak serta-merta langsung diterima di kawasan Timur Tengah, terutama di luar UEA.

“Orang-orang berkata bahwa seharusnya saya di rumah memasak dan membesarkan anak-anak,” ujarnya.

Pergerakan Zahra tak hanya sampai di situ. Ia bukan hanya sekadar atlet berhijab pertama yang berkompetisi melainkan juga mendorong Uni Emirat Arab jadi negara pertama Arab yang bergabung dengan International Skating Union.

“Ketika saya memulai olahraga ini, saya hanya sendiri. Kini kami memiliki sekitar 100 atlet putri yang melakukan olahraga ini,” tutur Zahra.

Sebagai inisiator, Zahra juga sukses menjadi juara nasional di UEA. Bagi Zahra, seorang juara hanya bisa lahir dari kerja keras setiap hari. Statusnya sebagai wanita pertama UEA yang menekuni olahraga ini tak akan otomatis menolongnya meraih gelar juara nasional.

“Saya selalu menetapkan target besar bagi diri sendiri. Untuk bisa mencapai target itu, penting bagi saya untuk bangun setiap hari dan berlatih tanpa pernah protes.”

“Tentu saya lelah melakukan ini namun begitu juga atlet lain. Seorang juara tidak akan bisa dibuat dengan hanya bertahan di tempat tidur. Kamu harus bekerja keras,” kata Zahra seperti dikutip dari The National.

Mimpi Zahra Lari saat ini adalah bisa tampil di Olimpiade Musim Dingin 2022. Zahra gagal lolos ke Olimpiade edisi 2018, namun pencapaian yang telah ia lakukan adalah kemenangan bagi dirinya dan banyak orang.