Musik Dapat Menyingkirkan Keresahan Covid-19
Tips Bermusik

Musik Dapat Menyingkirkan Keresahan Covid-19

Dunia saat ini sedang mengalami kegetiran dengan merebaknya Penyebaran Covid-19 sudah tak pandang bulu. Orang-orang mengisolasi diri di rumah masing-masing.

Jalan-jalan kota besar sebagian sudah lumpuh dan beberapa fasilitas umum termasuk aktifitas keseharian seperti Sekolah kantor-kantor, Mall, tempat wisata, sudah diantisipasi dan dihindari. Bahkan aktifitas berkerumun, sudah diminimalisir. Resepsi akbar pernikahan sudah dilarang, bahkan akan ada denda 1 tahun bui bagi yang melanggarnya.

Di garda depan, Tim Medis mati-matian merawat korban yang terkena Covid-19 itu. Pemerintah akhirnya mulai panik menatap angka jumlah korban terus melunjak. Ujian Nasional ditiadakan. Hastag #dirumahaja digalakkan seluruh elemen.

Orang-orang terdekat saling menjaga. Orang-orang tercinta saling menguatkan. Sungguh, dalam 25 Tahun saya Daftar 918Kiss untuk hidup, baru kali ini menghadapi keadaan segenting ini.

Masjid dan tempat ibadah lain sudah mulai dibatasi aktifitasnya. Adzan sudah mulai diganti dengan “Sholatlah kalian di rumah masing-masing”. Rupiah menurun. Krisis masker dan hand sanitizer merongrong dari segala penjuru.

Penggalakan pola hidup sehat selalu menghiasi timeline medsos. Anjuran untuk tidak panik selalu bergema di mulut-mulut pemerintah. Masyarakat diminta untuk menurut, agar wabah ini segera berakhir.

Work From Home menjadi kebijakan yang paling masuk akal. Masuk akal bagi mereka yang kerjaannya bisa digantikan dengan daring.

Sayangnya, kebijakan ini tidak relevan dengan mereka yang bekerja di lapangan, seperti buruh tani, supir truck, kuli bangunan, tukang becak, ojek online, dan masih banyak yang lain. Masih banyak saudara kita yang bertaruh nyawa di luar sana, demi dapur bisa ngebul.

Ternyata wabah ini tidak pandang bulu juga soal pekerjaan. Di dunia musik, keadaan ini juga berimbas. Job wedding, reguler, event, bahkan festival terancam pending.

Apesnya, ada yang menggantungkan rejeki hanya dari seperti ini. Satu persatu mereka mengeluhkan keadaan. Namun disamping itu, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk ngeyel. Baru kali ini, bermusik namun nyawa yang jadi taruhannya.

Sumber : Kompasiana.com