9b59d644-4edd-4437-92d8-1b153b42aac1_169
Artis Indonesia Musik Dalam Negeri

Godfather Of Broken Heart, Kala Didi Kempot ‘Terlahir Kembali’ di Tengah Anak Masa Kini

Godfather Of Broken Heart, Kala Didi Kempot ‘Terlahir Kembali’ di Tengah Anak Masa Kini

Godfather Of Broken Heart, Kala Didi Kempot ‘Terlahir Kembali’ di Tengah Anak Masa Kini,- Nama Didi Kempot kian menggaung di kalangan anak muda selama setahun belakangan, sebelum sang Maestro Campursari meninggal dunia pada hari ini, Selasa (5/5).

Pria kelahiran 31 Desember 1966 ini sejatinya sudah bermusik sejak 1984. Ia menjalani karier bermusik dari tahap nol, yakni menjadi pengamen.

Namun bakat seni musik dari sang ayah mengalir deras dalam nadinya. Ia pun dapat menciptakan lirik yang mampu membuat pendengarnya tergugah.

Kemampuan Didi mengantarnya ke ruangan rekaman setelah menjalani kehidupan yang penuh lara di jalanan ibu kota. Dia bahkan melesat hingga Belanda dan Suriname.

Didi Kempot sudah menghasilkan puluhan album, setidaknya yang tercatat ada Stasiun Balapan (1999), Modal Dengkul, Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004), dan Ono Opo (2005).

Sebelum menjadi fenomena baru di kalangan anak muda masa kini, Didi sebenarnya tak pernah sepi dari tawaran manggung, meski dari kampung ke kampung.

Kondisi itu yang kemudian membuat Didi memiliki basis penggemar kuat di kalangan akar rumput. Ia bahkan memiliki fan fanatik yang menyebut dirinya sebagai sadbois atau sadgerls atau Sobat Ambyar.

Para fan tersebutlah yang lantas ‘bertanggung jawab’ karena meriuhkan dunia maya pada awal Juni 2019 lalu. Didi Kempot, sekonyong-konyong, menjadi trending topic.

Bukan hanya namanya, ragam titel muncul untuk Didi Kempot menggantikan penyanyi campursari, yaitu Bapak Loro Ati Nasional, hingga TGodfather of Broken Heart.

Popularitas Didi di tengah generasi milenial pun kian menanjak saat penyiar radio Gofar Hilman mewawancarainya untuk program yang ia inisiasi, “Ngobam atau Ngobrol bareng Musisi” pada Juli 2019.

Sejak itu, banyak orang mendeklarasikan diri menyukai Didi Kempot. Lagunya kembali didengar, bahkan tak sedikit yang mewek sesengukan terbius daya magis Didi.

Salah satu lagu yang dinyanyikan Didi dalam video viral itu adalah Cidro, sebuah tembang yang dibuat adik dari mendiang Mamiek Prakoso itu pada 30 tahun lalu.

Lagu ini mengandung lirik lirih karena mengisahkan cinta tak berbalas. Saat dirilis, lagu ini tak meledak sama sekali. Lagu itu kalah dengan ‘Kalau Bulan Bisa Ngomong’ milik Doel Sumbang.

Namun, entah mengapa generasi milenial justru lebih bisa galau karena lagu itu dibandingkan anak muda 30 tahun lalu, ketika Didi Kempot merilisnya pertama kali.

“Tapi sekarang malah naik. Makanya kalau saya ketemu anak-anak muda sekarang, mimpi saya berhasil. Lagu ini kalau dari 1989 itu sudah berapa [umurnya]? Sudah 30 tahun usia lagu itu,” kata Didi.

w644

Didi saat itu mengaku heran melihat kini dirinya bisa mendadak terkenal. Tawaran manggung datang bak air bah. Jadwal untuk bertemu Didi tergolong susah bukan kepalang.

Undangan manggung tak lagi didapatnya hanya di kota kelahiran. Dia diminta tampil sebagai pengisi festival musik indie yang hit di Jakarta dan menjadi pengisi acara festival jazz bertaraf internasional.

Didi, dengan langgam Jawa miliknya, melintas genre dan generasi.

Berbagai julukan harus ‘terpaksa’ Didi terima. Contohnya ‘Bapak Loro Ati Nasional’ atau ‘Bapak Patah Hati Nasional’, ‘Godfather of Broken Heart‘, atau ‘Lord’ Didi Kempot. Semua julukan itu berasal dari para penggemarnya.

“Untuk pribadi, nama Didi Kempot seperti terlahir kembali,” kata Didi, teringat berbagai tingkah para penggemarnya yang ‘khatam’ dan otomatis bernyanyi saat ia tampil di atas panggung.

Didi sendiri merasa wajar terlahir kembali karena keberadaan internet dan jejaring sosial. Dulu, ketika internet belum lahir, Didi berjuang manggung dari panggung hajatan ke panggung lainnya.

Tak ada kicauan viral yang mempromosikan Didi, hanya dari mulut ke mulut para penggemarnya. Namun, keadaan berubah kala internet merajalela.

“Mereka memperkenalkan Didi Kempot ke dunia dengan media sosial itu, makanya saya terima kasih. Anak-anak muda itu saya anggap benteng budaya juga karena mereka masih mau menerima lagu-lagu semacam itu,” kata Didi.